Selasa, 22 November 2016

Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan

http://www.sejujurnya.com/2016/11/pertamina-solusi-bahan-bakar-berkualitas-dan-ramah-lingkungan.html

Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan kebijakan satu-harga bahan bakar yang tidak mungkin untuk menjadi efektif kecuali pemerintah mulai mengambil pembangunan di daerah terpencil serius. Energi dan sumber daya Mineral Departemen baru saja dikeluarkan Peraturan Menteri yang akan memungkinkan orang-orang di Papua dan Papua Barat untuk membeli bensin Premium untuk Rp 6,450 per liter, diesel untuk Rp 5,150 per liter dan minyak tanah untuk Rp 2.500 per liter mulai pada bulan Januari tahun depan.

Peraturan ini merupakan tindak lanjut komitmen Presiden Joko "Jokowi" Widodo agar harga BBM yang sama di semua wilayah di seluruh negeri, pemotongan harga dari Rp 50.000-Rp 100,000 per liter di Papua dan Papua Barat. Peraturan ini juga menetapkan bahwa hilir minyak dan Gas Badan Pengawas (BPH Migas) akan bertugas dengan memesan BUMN minyak dan gas Pertamina perusahaan untuk memasok bahan bakar ke lokasi baru, dipilih oleh Kementerian. Selain itu, badan dapat menerapkan sanksi jika perusahaan melanggar peraturan.

Kebijakan akan memaksa Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan untuk mengalokasikan Rp. 800 miliar pada subsidi setiap tahun. Namun, Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan tetap optimis tentang tantangan yang baru. Wianda Pusponegoro juru bicara mengatakan perusahaan berencana untuk menambah 22 agen distribusi bahan bakar di Maluku, Maluku Utara dan Papua. Pertamina berencana untuk mengalokasikan Rp 54 miliar untuk proyek-proyek.

"Dana bisa berasal dari investor dalam agen distribusi bahan bakar," katanya kepada The Jakarta Post pada hari Senin. Pada Mei, Pertamina memiliki 481 pompa bensin dan 397 agen distribusi di seluruh negeri, termasuk 19 agen distribusi di Papua dan 13 di Papua Barat. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, perusahaan melihat penurunan tahunan 17 persen pendapatan US$ 26,62 miliar. Namun, renegosiasi kontrak yang ada dan tindakan-tindakan pemotongan biaya operasional membuat keuntungan bersih perusahaan melambung 210 persen menjadi $2,83 miliar.

ReforMiner Institute peneliti Pri Agung Rakhmanto mengatakan kebijakan baru tidak perlu karena pemerintah telah memutuskan pada harga non-subsidi bahan bakar setiap tiga bulan. Masalahnya, katanya, terutama berkaitan dengan kurangnya pompa bensin di wilayah, menyebabkan sejumlah besar penjual bensin ilegal yang sering dua kali lipat atau tiga kali lipat harga jual.

Meskipun mungkin ada penurunan kecil dalam harga, Pri Agung meragukan bahwa harga jual akan mencapai harga di Jawa dan Bali kecuali pemerintah menetapkan kebijakan yang akan mengarah pada pembangunan infrastruktur yang serius, terutama dalam pembangunan SPBU. "Presiden Jokowi harus memesan pembangunan SPBU lain di daerah tersebut. Jika dia pergi ke Pertamina, mereka mungkin akan banyak bisnis yang berpikiran,"katanya.

Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan sebelumnya mengeluh bahwa karena agen distribusi ini hanya diisi sejumlah kecil bahan bakar dengan margin keuntungan kecil, investor yang sering enggan untuk menempatkan uang mereka dalam agen distribusi. Untuk melawannya, Peraturan Menteri baru menetapkan bahwa margin keuntungan yang berbeda disiapkan tergantung pada daerah. Peraturan tersebut juga menyatakan bahwa Pertamina harus memberikan biaya margin yang lebih tinggi untuk distributor di daerah tersebut.

Saat ini, profit margin pada penjualan bensin premium di SPBU Pertamina berdiri di hanya Rp 270 per liter. Meskipun Pertamina adalah satu-satunya perusahaan yang saat ini mendistribusikan subsidi bahan bakar, energi dan sumber daya Mineral Menteri Ignasius Jonan kata peraturan yang sama akan berlaku untuk perusahaan lain yang mungkin ingin mulai mendistribusikan bensin premium, diesel dan minyak tanah di daerah terpencil. "Mereka yang menerima janji untuk mendistribusikan bahan bakar subsidi harus mendistribusikan mereka dengan harga yang sama. Namun, ini tidak berlaku untuk jenis lain dari bahan bakar,"katanya. Sumber: http://www.sejujurnya.com/2016/11/pertamina-solusi-bahan-bakar-berkualitas-dan-ramah-lingkungan.html
Read More »

Rabu, 11 Februari 2015

Mobil bekas & baru Jakarta hari ini jualmobilbekas.hol.es


Beberapa mobil yang lebih baik menyembunyikan mereka usia, jarak tempuh Mobil bekas & baru Jakarta hari ini jualmobilbekas.hol.es dan kondisi yang benar berkat membangun kualitas yang sangat baik ketika mobil itu baru. Ini berarti mereka dapat menyamarkan beberapa kerusakan yang tidak diinginkan atau tagihan perbaikan berpotensi besar sementara tampaknya menawarkan banyak.

Sebaliknya, beberapa merek lain dan model tidak hati-hati disatukan, dan dapat muncul sedikit berderit dan tua sebelum waktunya ketika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana Anda tahu bedanya? Berikut adalah cara.

Pertama, melakukan penelitian ke dalam membuat dan model mobil yang Anda ingin membeli. Berbagai jenis mobil cenderung Mobil bekas & baru Jakarta hari ini jualmobilbekas.hol.es menderita berbagai jenis pakaian dan kerusakan - jadi, city car mungkin akan lebih rentan terhadap roda lecet daripada mesin eksekutif yang menghabiskan waktunya di jalan tol, di mana chip batu lebih dari sebuah isu.

Sebuah mobil dengan kap batu-terkelupas mungkin terlihat berantakan, tapi jika telah mencakup 20.000 mil per tahun di jalan tol, kemungkinan berada dalam kondisi mekanik besar. Biaya respraying kap mesin akan relatif kecil dan merupakan tawar alat yang hebat untuk mendapatkan Anda mobil suara pada harga yang lebih rendah.

Mobil bekas & baru Jakarta Velg rusak lebih dari masalah. Perbaikan roda alloy menyerempet sederhana, tetapi dapat berarti tagihan lebih mahal untuk menyortir suspensi, jadi pastikan mobil drive di garis panah-lurus ketika kemudi dalam posisi lurus ke depan. Juga, merasa untuk setiap judders saat berkendara, atau mobil menyelam ke satu sisi bawah pengereman.

Kaca jendela adalah salah satu daerah di mana sulit untuk menyembunyikan kerusakan kecuali telah sepenuhnya diganti. Carilah goresan Mobil bekas & baru Jakarta hari ini yang menunjukkan pemilik ceroboh atau banyak stonechips yang menyarankan jarak tempuh yang tinggi yang mungkin tidak cocok dengan apa yang ada di jam.

Giveaway lain untuk kondisi yang sebenarnya mobil ini adalah fit dan finish dari kesenjangan antara panel bodi. Mereka harus bahkan dan teratur seluruh mobil. Bayar perhatian khusus ke tempat bumper memenuhi sayap, karena ini adalah pekerjaan perbaikan yang paling umum. Jika kesenjangan bahkan tidak di kedua sisi, kemungkinan mobil telah mengalami kecelakaan dan telah diperbaiki.

Juga mencari setiap penyemprotan yang berlebihan cat di mana mobil telah diperbaiki. Hal ini tidak hanya memberitahu Anda mobil telah diperbaiki, itu juga menunjukkan pekerjaan itu tidak selesai untuk standar yang sangat tinggi sebagai perusahaan perbaikan yang baik akan berhati-hati untuk menghindari penyemprotan yang berlebihan.

Di dalam mobil, mendengarkan mainan kerincingan, pelan dan berderit pada test drive. Semua mobil akan mengalami beberapa tingkat kebisingan, tapi tetap telinga keluar untuk apa pun yang terdengar dari tempat.

Anda juga harus memeriksa jok, dasbor dan headlining dengan hati-hati seperti yang Anda lakukan bodywork. Carilah pertunjukkan dan kotoran yang mengisyaratkan hidup lebih sulit daripada klaim penjual untuk mobil. Dalam mobil estate, periksa boot untuk kerusakan atau gouges di plastik.

Baca juga ulasan artikel tentang Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan Indonesia Sejahtera.

Setiap mobil dengan rokok luka bakar atau noda akan membutuhkan bagian interior menggantikan untuk membuat baik kerusakan, sehingga baik untuk akun ini dalam harga atau berjalan kaki.

Ketika menghabiskan begitu banyak uang Anda sendiri pada sebuah mobil, membayar untuk Mobil bekas & baru Jakarta hari ini jualmobilbekas.hol.es menjadi pemilih. Jangan menunda oleh keausan asli, tapi tinggal di melihat keluar untuk sesuatu yang tidak biasa dan Anda akan pastikan untuk menghindari clunker dianiaya.
Read More »

Rabu, 04 Desember 2013

PERKEMBANGAN MASYARAKAT Dan BANGSA INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN (1959-1965)

PERKEMBANGAN MASYARAKAT Dan BANGSA INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN (1959-1965)

PERKEMBANGAN MASYARAKAT Dan BANGSA INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN (1959-1965)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah panjang perjuangan dan melelahkan pada akhirnya membuahkan kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945 dengan keputusan rakyat Indonesia sendiri setelah kemerdekaan yang dijanjikan jepang tak kunjung datang. Sejarahpun berlanjut, tiga sistem politik yang berbeda, masing masing mengatasnamakan “Demokrasi” telah di coba di tegakkan selama lebih kurang setengah abad terakhir.
Segera setelah Indonesia merdeka, Indonesia mencoba sistem Demokrasi parlementer yang di kemudian hari dianggap terlalu “Liberal”, kemudian menjelang dekade 1950 an dicoba pula sistem politik dengan nama demokrasi terpimpin, yang ternyata bukan saja tidak Demokratis, melainkan dinilai cendrung mengarah kepada sistem Otoriterianisme, pada kurun waktu terpanjang sesudah itu di Indonesia diberlakukan “Demokrasi pancasila” di bawah orde Baru, yang berakhir pada tahun 1998,dan yang melahirkan Revormasi.
Demokrasi terpimpin adalah sebuah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, yang seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpinnya saja. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai demokrasi terpimpin di Indonesia dan mudah-mudahan tidak lari jauh dari konteks sejarahnya. Dan dalam metode penulisan makalah ini penulis berusaha bersikap netral.
Demokrasi Terpimpin berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966, yaitu dari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga jatuhnya kekuasaan Sukarno. Masa Demokrasi Terpimpin yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno diawali oleh anjuran beliau agar Undang-Undang yang digunakan untuk menggantikan UUDS 1950 adalah UUD'45. Namun usulan itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan anggota konstituante. Sebagai tindak lanjut usulannya, diadakan voting yang diikuti oleh seluruh anggota konstituante. Voting ini dilakukan dalam rangka mengatasi konflik yang timbul dari pro kontra akan usulan Presiden Soekarno tersebut.


B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan politik pada masa demokrasi terpimpin ?
2. Bagaimana perkembangan sosial pada masa demokrasi terpimpin ?
3. Bagaimana perkembangan budaya pada masa demokrasi terpimpin ?
4. Bagaimana perkembangan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tugas pada mata kuliah “Sejarah Indonesia Kontemporer".
2. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis.

D. Manfaat Penulisan
1. Untuk mengetahui perkembangan politik pada masa demokrasi terpimpin.
2. Untuk mengetahui perkembangan sosial pada masa demokrasi terpimpin.
3. Untuk mengetahui perkembangan budaya pada masa demokrasi terpimpin.
4. Untuk mengetahui perkembangan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin.

E. Metode Penelitan
Metode yang penulis gunakan dalam menyusun makalah ini adalah Metode Studi Pustaka, yaitu suatu metode yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang dilakukan dengan membaca dan mengambil data yang ada hubungannya dengan tema atau dari internet.

BAB II
PEMBAHASAN

Demokrasi Terpimpin berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966, yaitu dari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga jatuhnya kekuasaan Sukarno. Latar belakang dicetuskannya sistem Demokrasi Terpimpin oleh Presiden Soekarno, yaitu :
1. Dari segi keamanan : Banyaknya gerakan sparatis pada masa Demokrasi Liberal,
menyebabkan ketidakstabilan di bidang keamanan.
2. Dari segi perekonomian : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa Demokrasi
Liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat.
3. Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950.

A. Perkembangan Politik / Pemerintahan Pada Masa Demokrasi Terpimpin
Soekarno dengan konsep Demokrasi Terpimpinnya menilai Demokrasi Barat yang bersifat liberal tidak dapat menciptakan kestabilan politik. Menurut Soekarno, penerapan sistim Demokrasi Barat menyebabkan tidak terbentuknya pemerintahan kuat yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia. Pandangan Soekarno terhadap sistem liberal ini pada akhirnya berpengaruh terhadap kehidupan partai politik di Indonesia. Partai politik dianggap sebagai sebuah penyakit yang lebih parah daripada perasaan kesukuan dan kedaerahan. Penyakit inilah yang menyebabkan tidak adanya satu kesatuan dalam membangun Indonesia. Partai-partai yang ada pada waktu itu berjumlah sebanyak 40 partai dan ditekan oleh Soekarno untuk dibubarkan. Namun demikian, Demokrasi Terpimpin masih menyisakan sejumlah partai untuk berkembang. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Soekarno akan keseimbangan kekuatan yang labil dengan kalangan militer. Beberapa partai dapat dimanfaatkan oleh Soekarno untuk dijadikan sebagai penyeimbang.
Pada masa Demokrasi Terpimpin, parlemen sudah tidak mempunyai kekuatan yang nyata. Sementara itu partai-partai lainnya dihimpun oleh Soekarno dengan menggunakan suatu ikatan kerjasama yang didominasi oleh sebuah ideologi. Dengan demikian partai-partai itu tidak dapat lagi menyuarakan gagasan dan keinginan kelompok-kelompok yang diwakilinya. Partai politik tidak mempunyai peran besar dalam pentas politik nasional dalam tahun-tahun awal Demokrasi Terpimpin. Partai politik seperti NU dan PNI dapat dikatakan pergerakannya dilumpuhkan karena ditekan oleh presiden yang menuntut agar mereka menyokong apa yang telah dilakukan olehnya. Sebaliknya, golongan komunis memainkan peranan penting dan temperamen yang tinggi. Pada dasarnya sepuluh partai politik yang ada tetap diperkenankan untuk hidup, termasuk NU dan PNI, tetapi semua wajib menyatakan dukungan terhadap gagasan presiden pada segala kesempatan serta mengemukakan ide-ide mereka sendiri dalam suatu bentuk yang sesuai dengan doktrin presiden.
Partai politik dalam pergerakannya tidak boleh bertolak belakang dengan konsepsi Soekarno. Penetapan Presiden (Penpres) adalah senjata Soekarno yang paling ampuh untuk melumpuhkan apa saja yang dinilainya menghalangi jalannya revolusi yang hendak dibawakannya. Demokrasi terpimpin yang dianggapnya mengandung nilai-nilai asli Indonesia dan lebih baik dibandingkan dengan sistim ala Barat, ternyata dalam pelaksanaannya lebih mengarah kepada praktek pemerintahan yang otoriter. Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum tahun 1955 yang didalamnya terdiri dari partai-partai pemenang pemilihan umum, dibubarkan. Beberapa partai yang dianggap terlibat dalam pemberontakan sepanjang tahun 1950an, seperti Masyumi dan PSI, juga dibubarkan dengan paksa. Bahkan pada tahun 1961 semua partai politik, kecuali 9 partai yang dianggap dapat menyokong atau dapat dikendalikan, dibubarkan pula.
Dalam penggambaran kiprah partai politik di percaturan politik nasional, maka ada satu partai yang pergerakan serta peranannya begitu dominan yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa itu kekuasaan memang berpusat pada tiga kekuatan yaitu, Soekarno, TNI-Angkatan Darat, dan PKI. Oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran mengenai kehidupan partai politik pada masa demokrasi terpimpin, pergerakan PKI pada masa ini tidak dapat dilepaskan.
http://kelashistory21.blogspot.com/2013/12/perkembangan-masyarakat-dan-bangsa.html
Hubungan antara PKI dan Soekarno sendiri pada masa Demokrasi Terpimpin dapat dikatakan merupakan hubungan timbal balik. PKI memanfaatkan popularitas Soekarno untuk mendapatkan massa. Pada bulan Mei 1963, MPRS mengangkatnya menjadi presiden seumur hidup. Keputusan ini mendapat dukungan dari PKI. Sementara itu di unsur kekuatan lainnya dalam Demokrasi Terpimpin, TNI-Angkatan Darat, melihat perkembangan yang terjadi antara PKI dan Soekarno, dengan curiga. Terlebih pada saat angkatan lain, seperti TNI-Angkatan Udara, mendapatkan dukungan dari Soekarno. Hal ini dianggap sebagai sebuah upaya untuk menyaingi kekuatan TNI-Angkatan Darat dan memecah belah militer untuk dapat ditunggangi. Keretakan hubungan antara Soekarno dengan pemimpin militer pada akhirnya muncul. Keadaan ini dimanfaatkan PKI untuk mencapai tujuan politiknya. Sikap militan yang radikal yang ditunjukkan PKI melalui agitasi dan tekanan-tekanan politiknya yang semakin meningkat, membuat jurang permusuhan yang terjadi semakin melebar. Konflik yang terjadi itu kemudian mencapai puncaknya pada pertengahan bulan September tahun 1965.
Seperti yang telah disebutkan di atas, partai politik pada masa Demokrasi Terpimpin mengalami pembubaran secara paksa. Pembubaran tersebut pada umumnya dilakukan dengan cara diterapkannya Penerapan Presiden (Penpres) yang dikeluarkan pada tanggal 31 Desember 1959. Peraturan tersebut menyangkut persyaratan partai, sebagai berikut:
1. Menerima dan membela Konstitusi 1945 dan Pancasila.
2. Menggunakan cara-cara damai dan demokrasi untuk mewujudkan cita-cita
politiknya.
3. Menerima bantuan luar negeri hanya seizin pemerintah.
4. Partai-partai harus mempunyai cabang-cabang yang terbesar paling sedikit di
seperempat jumlah daerah tingkat I dan jumlah cabang-cabang itu harus sekurang
kurangnya seperempat dari jumlah daerah tingkat II seluruh wilayah Republik
Indonesia.
5. Presiden berhak menyelidiki administrasi dan keuangan partai.
6. Presiden berhak membubarkan partai, yang programnya diarahkan untuk
merongrong politik pemerintah atau yang secara resmi tidak mengutuk anggotanya
partai, yang membantu pemberontakan.
Sampai dengan tahun 1961, hanya ada 10 partai yang diakui dan dianggap memenuhi prasyarat di atas. Melalui Keppres No. 128 tahun 1961, partai-partai yang diakui adalah PNI, NU, PKI, Partai Katolik, Partai Indonesia, Partai Murba, PSII dan IPKI. Sedangkan Keppres No. 129 tahun 1961 menolak untuk diakuinya PSII Abikusno, Partai Rakyat Nasional Bebasa Daeng Lalo dan partai rakyat nasional Djodi Goondokusumo. Selanjutnya melalui Keppres No. 440 tahun 1961 telah pula diakui Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Persatuan Tarbiyah Islam (Perti).
Demikianlah kehidupan partai-partai politik di masa Demokrasi Terpimpin. Partai-partai tersebut hampir tidak bisa memainkan perannya dalam pentas perpolitikan nasional pada masa itu. Hal ini dimungkinkan antara lain oleh peran Soekarno yang amat dominan dalam menjalankan pemerintahannya dengan cirinya utamanya yang sangat otoriter pada waktu itu di era demokrasi terpimpin.


B. Perkembangan Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya
1. Perkembangan Sosial Pada Masa Demokrasi Terpimpin
a. Pendidikan
Murid-murid sekolah lanjutan pertama dan tingkat atas pada tahun 1950-an jumlahnya melimpah dan berharap menjadi mahasiswa. Mereka ini adalah produk pertama dari system pendidikan setelah kemerdekaan. Universitas baru didirikan di ibukota propinsi dan jumlah fakultas ditambah meskipun kekurangan tenaga pengajar. Perguruan tinggi swasta semakin banyak terutama tahun 1960. Eksplosi pendidikan tinggi ini disebabkan meluasnya aspirasi untuk menjadi mahasiswa.
Untuk memenuhi keinginan golongan islam didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Sedangkan umat Kristen dan katolik didirikan sekolah Tinggi Theologia serta seminari-seminari. Sistem penerimaan mahasiswa yang mudah dan pembebasan biaya kuliah menyebabkan peningkatan jumlah mahasiswa besar-besaran. Penambahan mahasiswa mencapai seratus ribu dengan perguruan tinggi 181 buah pada tahun 1961.
Sejak tahun 1959 dibawah menteri P dan K Prof. Dr. Prijono disusun suatu rencana pengajaran yang disebut Sapta Usaha Tama, yang meliputi :
1) Penertiban aparatur dan usaha-usaha Departemen P dan K,
2) Meningkatkan seni dan olahraga
3) Mengharuskan usaha halaman
4) Mengharuskan penabungan
5) Mewajibkan usaha-usaha koperasi
6) Mengadakan kelas masyarakat
7) Membentuk regu kerja di kalangan SLTP/SLTA dan Universitas
Sejak tahun 1962 sistem pendidikan SMP dan SMA mengalami perubahan dalam kurikulum SMP baru di tambahkan mata pelajaran ilmu administrasi dan kesejahteraan masyarakat. Sistem pendidikan SMA di lakukan penjurusan mulai kelas II jurusan di bagi menjadi kelas budaya, soiial, ilmu pasti dan alam. Melihat pembagian di SMA seperti itu menunjukkan mereka dipersiapkan untuk memasuki peguruan tinggi.
Tentang penyelenggaraan seni dan olah raga ditentukan kewajiban mempelajari dan menyanyikan 6 lagu nasional selain lagu kebangsaan Indonesia Raya. Olah raga sepak bola dan bola volley banyak dikembangkan.
Gerakan menabung bagi setiap murid dilakukan pada bank tabungan pos, kantor pos, kantor pos pembantu. Cara penabungan di atur oleh departemen P dan K bersama dengan Direksi Bank Tabungan Pos. usaha ini untuk mendidik anak berhemat selain untuk pengumpulan dana masyarakat. Gerakan koperasi sekolah juga digiatkan. Murid aktif dalam penyelenggaraan koperasi. Kepala sekolah dan guru sebagai pengawas dan penasehat koperasi.
Suatu kelas masyarakat yang waktu pendidikannya 2 tahun dibentuk untuk menampung lulusan sekolah rakyat yang karena sesuatu hal tidak dapat melanjutkan sekolah. Mereka dididik dalam kelas masyarakat ini untuk mendapat ketrampilan.
Sekitar tahun 1960-an dikalangan pendidikan muncul masalah yakni usaha PKI untuk menguasai organisasi profesi guru “Persatuan Guru Replubik Indonesia” (PGRI). Hal ini menimbulkan perpecahan dikalangan guru dan PGRI. Perpecahan PGRI bertepatan dengan dilancarkannya system pendidikan baru oleh menteri PP dan K. system baru itu adalah Pancasila dan Pancawardhana. Adapun sistem Pancawardhana atau lima pokok penjabarannya :
1) Perkembangan cinta bangsa dan tanah air, moral nasional / internasional / keagamaan.
2) Perkembangan intelegensi.
3) Perkembangan nasional-artistik atau rasa keharusan dan keindahan lahir dan batin.
4) Perkembangan keprigelan ( kerajinan tangan ).
5) Perkembangan jasmani.

b. Komunikasi Massa
Surat kabar dan majalah yang tidak seirama dengan Demokrasi Terpimpin, harus menyingkir dan tersingkir. Persyaratan untuk mendapatkan Surat Ijin Terbit dan Surat Ijin Cetak (SIT) diperketat. Sejak tahun 1960, semua penerbit wajib mengajukan permohonan SIT dengan dicantumkan 19 pasal yang mengandung pertanggungjawaban surat kabar/majalah tersebut.
Pedoman resmi untuk penerbitan surat kabar dan majalah diseluruh Indonesia, dikeluarkan pada tanggal 12 Oktober 1960 yang ditanda tangani oleh Ir. Juanda selaku Pejabat Presiden. Pedoman yang berisi 19 pasal tersebut mudah digunakan penguasa untuk menindak surat kabar/majalah yang tidak disenangi. Maka satu demi satu penerbit yang menentang dominasi PKi di cabut SITnya. Yakni, Harian Pedoman, Nusantara, Keng Po, Pos Indonesia, Star Weekly dan sebagainya. Surat kabar Abadi lebih memilih menghentikan penerbitan daripada menandatangani persyaratan 19 pasal itu. Dengan semakin sedikitnya pers Pancasila yangb masih hidup, dapat digambarkan betapa merajalelanya Surat Kabar PKI seperti Harian Rakyat, Bintang Timur, dan Warta Bhakti.
Sajuti Melik menyebarluaskan ajaran-ajaran Bung Karno yang murni (belum dipengaruhi oleh komunisme) dalam tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar dengan jdul tulisan “Belajar Memahami Soekarnoisme”. Isi pokok tulisan Sajuti Melik ialah “Tidak setuju Nasakom”, melainkan setuju Nasasos. Maksudnya ialah untuk mengingatkan berbagai pihak akan ajaran-ajaran Bung Karno yang semula. Dengan demikian diharapakan untuk membendung penyimpangan-penyimpangan oleh PKI terhadap ajaran-ajaran itu. Pada mulanya tulisan itu di muat oleh Suluh Indonesia, Koran PNI, dan dari Koran itu di kutip oleh harian dan majalah lain. Tapi setelah ada protes keras dari PKI, maka dihentikan pemuatannya oleh Suluh Indonesia. Berdasarkan tulisan sajuti Melik ini, berdirilah Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Pengurus BPS adalah ketua : Adam Malik; Wakil Ketua : B. M. Diah; Ketua Harian : Sumantoro; Wakil Ketua Harian : Junus Lubis; Sekretaris Umum : Drs. Asnawi Said; Bendahara : Sunaryo Prawiroadinata; Biro Dalam Negeri : Sugiarso; Biro Luar Negeri : Zain Effendi AI; Penghubung : Adyatman. BPS terbukti mendapat dukungan luas dalam masyarakat, dilain pihak mendapat tantangan dari PKI. Melalui surat kabar, rapat-rapat dan demonstrasi PKI menfitnah BPS dengan slogan to kill Soekarno With Soekarnoisme.
Pemerintah Soekarno pada saat itu mendapat tekanan dari golongan komunis untuk menindak BPS. Pada akhirnya Presiden Soekarno, selaku pemutus terakhir turun tangan. Keputusan yang di ambil Presiden Soekarno pada bulan februari 1965 ialah : “melarang semua aktivitas BPS dan mencabut izin terbit Koran-koran penyokong BPS”. Ini berarti BPS bubar.

2. Kehidupan / Perkembangan Budaya Pada Masa Demokrasi Terpimpin
Sesuai dengan semboyan PKI “ politik adalah panglima” maka seluruh kehidupan masyarakat diusahakan untuk berada di bawah dominasi politiknya. Kampus diperpolitikkan mahasiswa yang tidak mau ikut dalam rapat umumnya, appel-appel besarnya dan demonstrasi-demonstrasi revolusionernya di caci maki dan dirongrong oleh unsur Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) atau satelit-satelitnya. Wartawan yang ikut BPS dimaki-maki sebagai antek Nekolim atau agen CIA. Bahkan para budayawan maupun seniman juga tak luput dari raihan tangan mereka.
Realisme sosialis sebagai doktrin komunis dibidang seni dan sastra diusahakan untuk menjadi doktrin di Indonesia juga. Akan tetapi pelaksanaan doktrin tersebut lebih represif dari pada persuasive seperti adanya larangan bagi pemusik-pemusik pop untuk memainkan lagu-lagu ala imperialis barat. Peristiwa yang paling diingat oleh masyarakat pada bidang budaya adalah heboh mengenai Manifes Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI). PKI tidak serta merta menyerang manifes tersebut akan tetapi berselang 4 bulan setelah kemunculannya baru mulai angkat senjata. Hal ini terjadi karena para sastrawan Pancasilais baik yang mendukung manifes kebudayaan maupun tidak sedang menyiapkan rencana untuk menyelenggarakan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI). PKI menganggap bahwa sebuah manifest saja bukanlah ancaman bagi mereka akan tetapi suatu pengelompokan yang terorganisasi merupakan bahaya yang harus segera ditumpas sebelum berkembang lebih besar.
Setelah kemunculan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI) barulah PKI mulai mengadakan kampanye untuk mengidentifikasi KKPI dan PKPI dengan manifest kebudayaan untuk sama-sama dihancurkan. Serangan terhadap manifest kebudayaan terus dilancarkan melalui tulisan yang semakin tajam dalam Harian Rakyat, Bintang Timur dan Zaman Baru. PKI menganggap manifest kebudayaan sebagai bentuk penyelewengan dari revolusi Indonesia yang berporos pada soko guru tani, buruh dan prajurit. Di lain sisi PKI mendukung penuh gagasan manifest politik karena dalam ide-ide tersebut terdapat penyesuaian gagasan sikap politik budaya dari perjuangan komunisme. Manifes kebudayaan dianggap mengesampingkan manifest politik karena memisahkan antara politik dan kebudayaan. Propaganda PKI yang hebat sedikit banyak telah mempengaruhi massa, serangan-serangan terhadap pendukung manifest kebudayaan dan KKPI tidak ada hentinya dalam harian, pidato, tokoh-tokoh PKI maupun aksi politik. Serangan lewat media mass media, aksi turun kejalanberdemonstrasi dilakukan oleh penyokong PKI. Aksi-aksi tersebut mengundang presiden Soekarno sehingga pada ulang tahun Departemen Perguruan Tinggi dan ILmu Pengetahuan (PTIP) yang ke-3 menyampaikan pidato yang mendesak mahasiswa revolusioner dan molotan untuk menggeser guru-guru besar dan sarjana anti manifest politik.
Pidato Presiden Soekarno tentang Manipol-Usdek yang dimanfaatkan PKI untuk penerapan bagi konsumsi rakyat. Dalam pidato ini Presiden soekarno mengecam adanya kebudayaan barat yang diasosiasikan dengancita-cita imperialism barat. Kekuatan PKI setelah tahun 1963 sangat besar dan berpengaruh sekali, Bahkan PKI dapat keluar masuk istana secara mudah. Sehingga Presiden soekarno mengeeluarkan larangan terhadap manifest kebudayaan karena manifesto politik republik Indonesia sebagai pancaran pancasila telah menjadi garis besar haluan negara tidak mungkin didampingi manifesto lain apalagi kalau manifesto itu menunjukkan sikap ragu-ragu terhadap revolusi dan memberi kesan berdiri disampingnya.
Pada tanggal 27 Agustus-2 September 1964 PKI mengadakan Konferensi Nasional Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta. KSSR ini dimaksudkan untuk menandingi KKPI yang diadakan bulan Maret. KSSR mau membuktikan bahwa suasana kebudayaan berada dibawah kekuasaaan PKI. Dengan demikian berhasilllah PKI memukul manifest kebudayaan akan tetapi PKPI tidak dapat mereka hancurkan. Benteng Pancasila tidak dapat ditaklukkan oleh PKI selain itu para sastrawan Indonesia mendapatkan pelajaran berharga bahwa untuk menghadapi komunisme diperlukan juga senjata berupa organisasi.

3. Perkembangan Ekonomi Pada Masa Demokrasi Terpimpin
a. Ekonomi-Keuangan
Untuk merencanakan pembangunan ekonomi, pada tahun 1958 dibentuk undang-undang mengenai pembentukan Dewan Perancang Nasional. Tugasnya adalah:
I. Mempersiapkan rancangan undang-undang Pembangunan Nasional yang berencana; (pasal 2).
II. Menilai penyelenggara pembangunan itu (pasal 3).
Selanjutnya pada tanggal 15 Agustus 1959 terbentuklah Dewan Perancang Nasional (Depernas) di bawah pimpinan Mr. Muh Yamin sebagai Wakil Menteri Pertama yang beranggotakan 80 orang wakil golongan masyarakat dan daerah. Dalam waktu kurang lebih satu tahun, Depernas berhasil menyusun suatu “Rancangan Dasar Undang-Undang Pembangunan Nasional Sementara Berencana tahapan tahun 1961-1969.” MPRS menyetujui rancangan tersebut.
Pada tahun 1963, Dewan Perancang Nasional diganti dengan Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin oleh Presiden Sukarno. Dalam rangka usaha membendung inflasi maka dikeluarkan kebijakan :
1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2 Tahun 1959 yang mulai berlaku tanggal 25 Agustus 1959. Peraturan itu dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang dalam peredaran untuk kepentingan perbaikan keadaan keuangan dan perekonomian negara. Untuk mencapai tujuan itu nilai uang kertas pecahan Rp.500,- dan Rp.1000,- yang ada dalam peredaran pada saat berlakunya peraturan itu diturunkan masing-masing menjadi Rp.50,- dan Rp.100,-.
2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.3 tahun 1959 tentang pembekuan sebagian dari simpanan pada bank-bank yang dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang dalam peredaran, yang terutama dalam tahun 1957 dan 1958 sangat meningkat jumlahnya.
Peraturan moneter tanggal 25 Agustus 1959 diakhiri dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.6/1959, yang isi pokoknya ialah ketentuan bahwa bagian uang lembaran seribu rupiah dan lima ratus rupiah yang masih berlaku (dan yang kini bernilai seratus rupiah dan lima puluh rupiah) harus ditukar dengan uang kertas bank baru sebelum tanggal 1 Januari 1960. Untuk menampung akibat-akibat dari tindakan moneter dari bulan Agustus 1959 dibentuklah Panitia Penampung Operasi Keuangan (P POK). Tugas pokok dari panitia ini ialah menyelenggarakan tindak lanjut dari tindakan moneter itu, tanpa mengurangi tanggung jawab menteri, departemen, dan jawatan yang bersangkutan.
Akibat utama dari tindakan moneter yang dilakukan oleh pemerintah ialah terjadinya kesukaran likuiditas di semua faktor, baik sektor pemerintah maupun sektor swasta. Keadaan ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengadakan penertiban dari segala kegiatan pemerintah dan swasta yang sebelumnya seolah-olah tidak terkendalikan. Untuk tujuan itu pemerintah menginstruksikan :
1) Penghematan bagi instansi pemerintah serta memperketat pengawasan atas pelaksanaan anggaran belanja.
2) Dilakukan penertiban manajemen dan administrasi perusahaan-perusahaan negara, baik yang sudah lama ada, maupun yang baru diambil alih dari pihak Belanda.
Dengan tindakan moneter tanggal 25 Agustus 1959 itu, pemerintah bertujuan akan dapat mengendalikan inflasi dan mencapai keseimbangan dan kemantapan moneter dengan menghilangkan excess liquidity dalam masyarakat. Hal itu diusahakan dengan menyalurkan uang dan kredit baru ke bidang-bidang usaha yang dipandang penting bagi kesejahteraan rakyat dan pembangunan. Tetapi pada akhir tahun 1959 itu juga, jadi hanya 4 bulan lebih sedikit setelah dilakukan tindakan moneter tersebut, dapat diketahui bahwa pemerintah mengalami kegagalan. Semua tindakan-tindakan moneter itu tidak mencapai sasarannya karena pemerintah tidak mempunyai kemauan politik untuk menahan diri dalam pengeluaran-pengeluarannya. Misalnya saja menyelenggarakan proyek mercu-suar seperti Ganefo (Games of the New Emerging Forces) dan Conefo (Conference of The New Emerging Forces).
Sejak tahun 1961, Indonesia terus-menerus membiayai kekurangan neraca pembayarannya dari cadangan emas dan devisa. Pada akhir tahun 1965, untuk pertama kali dalam sejarah moneternya, Indonesia sudah habis membelanjakan cadangan emas dan devisanya, yang memperlihatkan saldo negatif sebesar US $ 3 juta sebagai akibat politik konfrontasi terus-menerus yang dilakukan. Tingkat kenaikan harga-harga paling tinggi terjadi dalam tahun 1965 (antara 200%-300% dari harga tahun 1964).
Presiden Sukarno menganggap perlu untuk mengintegrasikan semua Bank Negara ke dalam suatu organisasi Bank Sentral. Untuk itu dikeluarkan Penetapan Presiden No.7 tahun 1965 tentang Pendirian Bank Tunggal Milik Negara. Tugas bank tersebut adalah menjalankan aktivitas-aktivitas bank sirkulasi, bank sentral dan bank umum. Maka kemudian diadakan peleburan bank-bank negara seperti: Bank Koperasi dan Nelayan (BKTN); Bank Umum Negara; Bank Tabungan Negara; Bank Negara Indonesia ke dalam Bank Indonesia. Sesudah pengintegrasian Bank Indonesia itu selesai, barulah dibentuk Bank Negara Indonesia. Bank Negara Indonesia tersebut dibagi dalam beberapa unit, yang masing-masing unit menjalankan pekerjaannya menurut aturan-aturan pendiriannya. Keadaan itu berlangsung terus sampai Bank Tunggal itu dibubarkan dengan berlakunya Undang-undang No.13 Tahun 1968.

b. Perkreditan dan Perdagangan Luar Negeri
Politik luar negeri pada masa Demokrasi Terpimpin di bidang perkreditan dan perdagangan hakekatnya tidak berbeda sifatnya dari sistem ijon dari petani-petani dan pengusaha-pengusaha kecil, hanya saja kredit luar negeri ini berskala nasional dan menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia. Dalih perkreditan luar negeri pada masa ini adalah mengarrangement dan readjustment dengan negara-negara kreditor. Dan sementara itu masyarakat Indonesia pada umumnya masih beranggapan bahwa hutang adalah identik dengan penghasilan.

Perdagangan luar negeri antara Indonesia dengan negara lain misalnya dengan negara Cina. Perdagangan bilateral tersebut dijalin atas dasar Government to Government (G to G). Dalam perdagangan G to G ini RRC memperoleh keuntungan politik disamping keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Sebagai contoh perdagangan karet. Transaksi-transaksi karet rakyat Indonesia dengan RRC pada hakekatnya adalah pembelian bahan baku yang murah oleh RRC, yang kemudian dijual kembali sebagai barang jadi yang mahal ke Indonesia sebagai yang disebut bantuan luar negeri. Dalam hubungan ini adakalanya barang-barang yang bercap RRC seperti tekstil yang dikirim sebagai bantuan ke Indonesia bukan dibuat di RRC sendiri akan tetapi di Hongkong. Dalam hal ini disebut bantuan pada hakekatnya adalah hasil keuntungan RRC dari pembelian karet rakyat Indonesia. Maka jelaslah bahwa kebijaksanaan perdagangan dan perkreditan luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah Orde Lama terutama selama 3 tahun terakhir telah membawa Indonesia ke dalam lingkungan pengaruh politik RRC sampai titik kulminasinya dalam pemberontakan G 30 S/PKI.
Dalam rangka usaha untuk membiayai proyek-proyek Presiden/Mandataris MPR-S, maka Presiden Sukarno mengeluarkan Instruksi Presiden No.018 tahun 1964 dan Keputusan Presiden No.360 tahun 1964, yang berisi ketentuan-ketentuan mengenai penghimpunan dan penggunaan “dana-dana revolusi”. Dana-dana revolusi tersebut pada mulanya diperoleh dari pungutan uang call SPP dan dari pungutan yang dikenakan pada pemberian izin impor dengan deferred payment. Deferred payment ialah suatu macam impor yang dibayar dengan kredit (kredit berjangka 1-2 tahun) karena tidak cukup persediaan devisa. Dalam praktek, barang-barang yang diimpor dengan menggunakan deferred payment khusus itu adalah barang-barang yang tidak membawa manfaat bagi rakyat banyak, bahkan sebaliknya merupakan barang-barang yang sudah dijadikan bahan spekulasi dalam perdagangan, misalnya scooter dan barang-barang lux lainnya. Pada umumnya yang mendapat izin deferred payment ini adalah yang disponsori oleh Presiden Sukarno sendiri. Akibat kebijaksanaan kredit luar negeri ini adalah:
1) Hutang-hutang negara semakin bertimbun-timbun, sedangkan ekspor semakin menurun terus.
2) Devisa menipis karena ekspor menurun sekali.
3) Hutang luar negeri dibayar dengan kredit baru atau pembayaran itu ditangguhkan.
4) RI tidak mampu lagi membayar tagihan-tagihan dari luar negeri, yang mengakibatkan adanya insolvensi internasional. Karena itu, sering terjadi bahwa beberapa negara menyetop impornya ke Indonesia karena hutang-hutang tidak dibayar.
5) Di dalam negeri berakibat mengganggu proses produksi, distribusi dan perdagangan serta menimbulkan kegelisahan di kalangan penduduk.
Menteri Bank Sentral, Jusuf Muda Dalam diberikan kuasa untuk mengelola “dana revolusi” itu. Dana revolusi tersebut diberikan dalam bentuk kredit kepada orang lain atau perusahaan dengan rente tertentu agar jumlah dana bertambah terus. Namun, pemberian kredit tersebut menyimpang dari pemberian kredit biasa sampai kira-kira mencapai jumlah Rp 338 milyar (uang lama). Hal ini mengakibatkan inflasi meningkat sangat tinggi karena pemerintah sama sekali tidak mengindahkan jumlah uang yang beredar. Bank Indonesia diizinkan untuk mengadakan penyertaan dalam perusahaan, sehingga membawa akibat yang cukup luas bagi masyarakat:
1) Bank Indonesia sebagai Bank Sentral tidak dapat lagi menjalankan fungsinya sebagai pengantar peredaran uang.
2) Neraca Bank Indonesia tidak dapat diketahui oleh rakyat lagi.
3) Neraca Bank Indonesia yang tidak diumumkan mendorong usaha-usaha spekulasi dalam bidang ekonomi dan perdagangan.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Latar belakang dicetuskannya Sistem Demokrasi Terpimpin oleh Presiden Soekarno yaitu dari segi keamanan : Banyaknya gerakan sparatis pada masa Demokrasi Liberal, menyebabkan ketidakstabilan di bidang keamanan. Dari segi perekonomian : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa Demokrasi Liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat. Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950.
Untuk merencanakan pembangunan ekonomi, pada tahun 1958 dibentuk undang-undang mengenai pembentukan Dewan Perancang Nasional. Tugasnya adalah mempersiapkan rancangan undang-undang Pembangunan Nasional yang berencana, menilai penyelenggara pembangunan itu. Pada massa demokrasi terpimpin Indonesia melakukan kredit luar negeri dan melakukan kerja sama perdangan dengan Cina yang memberikan keuntungan materi dan politik.
Pada masa Demokrasi Terpimpin, parlemen sudah tidak mempunyai kekuatan yang nyata. Partai politik tidak mempunyai peran besar dalam pentas politik nasional dalam tahun-tahun awal Demokrasi Terpimpin.
Dalam bidang social budaya, pendidikan masa demokrasi terpimpim mulai berubah dan mengalami kemajuan. Perguruan tinggi mulai bermunculan baik swasta maupun negeri. Media massa ketika demokrasi terpimpin mengalami kemunduran, sebab media massa mulai dibelenggu dengan aturan-aturan dan izin cetak/siar. Media massa dikendalikan oleh komunis. Bidang budayapun juga begitu, seni dan sastra dipengaruhi oleh paham komunis.
Baca juga ulasan artikel tentang Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan Indonesia Sejahtera.
Read More »

Selasa, 12 November 2013

Sunan Kalijaga "Ppt"



Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa.

Baca juga ulasan artikel tentang Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan Indonesia Sejahtera.
Read More »

Minggu, 10 November 2013

PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER "HASAN HANAFI"

PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER "HASAN HANAFI"

PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER "HASAN HANAFI"

JUDUL BUKU : Pemikiran Aqidah Humanitarian Hasan Hanafi
PENGARANG : Asmuni M. Thaher
HALAMAN : 130-132

RESUME 
Hassan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo. Di masa kecilnya Hanafi telah berhadapan dengan berbagai kenyataan pahit yang diderit masyarakatnya akibat penjajahan dan dominisi pengaruh bangsa asing. Sejak kecil pula, Hanafi telah terlibat dalam berbagai aktivitas sosial politik, bahkan pada usia belasan tahun, dia sudah mendaftarkan diri sebagai sukarelawan perang melawan Israel tahun 1948. Sejak saat ini hingga meletusnya revolusi di Mesir tahun 1952. Hanafi menyaksikan banyak hal yang menyakitkan seperti pembantaian para pejuang oleh tentara Inggris dan konflik internal dalam tubuh masyarakat Mesir, khususnya pemuda Islam.
Kekecewaan-kekecewaan sosial politik ini membawanya untuk beralih konsentrasi mendalami pemikiran-pemikiran keagamaan, revolusi, dan perubahan sosial. Satu gebrakan yang cukup mendasar dari dia, yaitu upayanya untuk melakukan telaah ulang (rekonstruksi) terhadap khazanah klasik sebagai dasar berpijak dalam melakukan sebuah revolusi.
Upaya rekonstruksi khazanah klasik ini, dibangun atas asumsi dasar bahwa bagian-bagian tertentu perlu dimodifikasi, disamping ada bagian-bagian lain yang perlu dikembangkan. Hanafi sendiri dalam menyikapi warisan (turats) ulama klasik ini cenderung mengambil sikap yang beragam, sesuai dengan keyakinannya bahwa pahamatau aliran yang menurutnya paling relevan untuk dikembangkan saat ini.
Dalam hal ilmu kalam misalnya, Hanafi melihat pola berpikir Mu’tazilah perlu dipopulerkan kembali karena sifat rasionalnya. Sebaliknya, dia melihat tradisi Asy’ariyah yang menurutnya telah mapan selama berabad-abad di dunia Islam harus dibongkar. Sistem Mu’tazilah, dipandang sebagai refleksi gerakan rasionalisme, naturalisme, dan kebebasan manusia. Sedang system Asy’ariyah dianggap bertanggung jawab atas kemandegan pemikiran umat.
Dalam tradisi filsafat, Hanafi lebih mengikuti pandangan Ibn Rusyd sehingga ia menghindarkan illuminasi dan metafisika. Ia lebih cenderung mendukung optimalisasi penggunaan rasio untuk menganalisis alam. Pembelaannya terhadap filsafat rasional rintisan al Kindi yang memandang filsafat sebagai dasar agama, mengeksplorasi hukum alam demi kemaslahatan umat memaksanya untuk mengkritik filsafat illuminasi dan metafisika yang dikembangkan Ibnu Sina dan al Farabi.
Komitmennya pada pemikiran rasionalistik ilmiyah ini membawa Hanafi sampai pada kesimpulan untuk menolak sufisme yang baginya sufisme ini adalah akar dekadensi umat Islam. Pola pikir sufisme ini pula yang dianggapnya telah mengubah Islam dari suatu gerakan horizontal dalam sejarah menjadi gerakan vertikal yang keluar dari kehidupan dunia. Islam yang semula menjadi cita-cita kesejarahan diubah menjadi cita-cita ahistoris. Akibatnya, Islam yang awalnya merupakan milik umat diubah menjadi eksklusif miliki segelintir pengikut tarekat.
Meski demikian, Hanafi menegaskan bahwa secara umum pemikiran akidah klasik terlalu teoritis, elitis, dan konsepsional yang statis. Hanafi menginginkan doktrin akidah yang bersifat antroposentris, praktis, populis, transformatif, dan dinamis. Untuk mentransformasikan ilmu-ilmu serta pemikiran klasik menjadi ilmu atau pemikiran yang bersifat kemanusiaan (humanitarian), ada tiga langkah yang ditawarkan oleh Hanafi:
Pertama, langkah dekonstruksi. Langkah ini dilakukan dengan menjelaskan aspek isi, metodologi, dan juga penjelasan terhadap konteks sosio-historis yang melatarbelakangi kelahirannya, serta perkembangannya saat ini. Kemudian, memberikan penilaian atas kelebihandan kekurangannya, juga bagaimana fungsinya di masa sekarang. Kedua, langkah rekonstruksi. Langkah ini dilakukan dengan cara mentransfer teori-teori lama yangmasih dapat dipertahankan seperti rasionalisme ke dalam perspektif baru yang didasarkan pada pertimbangan realitas kontemporer. Teori ini selanjutnya dibangun menjadi sebuah ilmu yang berorientasi kepada kemanusiaan. Ketiga, langkah pengintegrasian. Langkah ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan ilmu-ilmu atau pemikiran klasik dan merubahnya menjadi ilmu kemanusiaan baru.
Pemikiran akidah humanitarian Hanafi merupakan jeritan dan keluhan terhadap realitas yang menyakitkan. Realitas yang melukiskan masyarakat Arab dan Muslim yang kehilangan kesadaran diri, yang rancu pemikirannya, yang salah dalam memahami qadla dan qadar, tidak mampu membedakan batas-batas kehendak manusia dan kehendak ilahi. Masyarakat muslim tampak menyerah dan pasrah pada takdir karena kesalahpahaman mereka dalam memaknai takdir. Mereka mengharapkan perubahan datang dari atas, dari Allah, atau dari penguasa tanpa
berupaya menciptakan perubahan yang datang dari diri sendiri.
Hanafi menyeru manusia untuk menelusuri asal muasal akidah dengan menggunakan rasio, hingga tauhid mempunyai ikatan dengan amal nyata, Allah dengan bumi, dzat ilahiyah dengan dzat insaniyah, sifat-sifat ketuhanan dengan nilai-nilai humanisme, dan kehendak Allah dengan perjalanan sejarah. Dia mengingatkan umat bahwa syirik modern (al syirk al muashir) tidak harus dalam tatanan ubudiyah (ibadah ritual), tetapi dalam tatanan mu’amalah (interaksi manusia dengan sesama). Fenomena syirik tidak hanya ditandai oleh penyembahan kuburan para wali dan nabi, tamimah, dan sihir, karena contoh di atas adalah syirik dalam tatanan ritual formal. Syirik dalam tataran mu’amalah ditandai adanya kesenjangan yang dalam antara yang kaya dan yang miskin, penjajah dan kaumtertindas, pemegang kekuasaan dan penjilat yang munafik. Syirik mu’amalah ditandai pula oleh anggapan manusia, bahwa ada orang lain yang menguasai dirinya, yang selalu dipuji, dan ditakuti, serta adanya penguasa yang mampu memelihara bumi dan memberikan keselamatan.
Hanafi mencoba mengungkapkan kebenaran internal akidah (al shidq al dakhili) dan mempelajari kemungkinan untuk mengimplementasikan kebenaran itu dalam alam nyata. Hanafi menegaskan bahwa dia tidak mempunyai kecenderungan untuk membela akidah dari pengaruh orang kafir, karena kecenderungan ini telah selesai di masa lampau ketika umat ini berjaya, buminya merdeka, dan kehormatannya dijunjung tinggi. Yang menjadi kecenderungan Hanafi adalah upaya mencari metode yang mengantarkan akidah menuju kemenangan, kebebasan jiwa manusia dan tanah serta pembangunan.
Menurut Hanafi, tujuan penelusuran rasional pada akidah bukan untuk menyerang orang kafir dan membela akidah itu sendiri, tetapi untuk menunjukkan bukti-bukti kebenaran internal (al shidq al dakhili) akidah dengan cara menganalisa secara rasional (al tahlil al aqli) pengalaman generasi terdahulu dan cara yang mereka tempuh untuk mengimplementasikanya. Langkah ini akan mampu memberi kebenaran eksternal (al shidq al khariji), hingga akidah semakin terbuka dan diterima orang untuk diterjemahkan dalam dunia.
Pencapaian Hanafi adalah karya besar karena ulama klasik hanya ingin menegaskan kebenaran akidah dalamtataran realitas danmengajukan argumentasi ilmiah.Meskipun berangkat dari cita-cita yang sama (menegaskan kebenaran akidah), tetapi cara yang dipakai Hanafi berbeda dari cara yang ditempuh ulama klasik. Hanafi tidak menyebut dirinya pengikut ulama salafi, tetapi dalam waktu yang sama dia tidak mengklaim dirinya sebagai seorang kreator (muhdi).
Hanafi berkata, jika ulama klasik bertujuan memisahkan satu golongan dari golongan yang lain (al farq bayn al firaq), maka tujuan kita adalah mempertemukan semua golongan dan kelompok (al jam’u bayn al firaq). Jika tujuan ulama klasik menjelaskan pendapat kaum muslimin dan perbedaan cara shalat, maka tujuan kita adalah menjelaskan pendapat kaum muslimin dan kesamaan cara melaksanakan shalat. Jika tujuan ulama klasik adalah memaparkan berbagai akidah aliran-aliran kaum muslimin, maka maksud kita adalah mengungkapkan metode akidah umat dan segala kekuatan sosial politik mereka untuk mensejahterakan bersama.
Baca juga ulasan artikel tentang Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan Indonesia Sejahtera.
Read More »