Senin, 25 Juni 2012

Kesenian Wayang Kulit

Kesenian Wayang Kulit

Wayang kulit adalah sebagian dari produk seni tradisionil klasik, yang secara sadar dikembangkan secara konsepsionil. Konsep tersebut dibuat oleh orang yang biasa kita sebut dengan istilah “empu”.  Empu itu merupakan orang yang dekat dengan orang yang mempunyai kekuasaan, misalnya raja-raja.
Apa yang membuat wayang kulit dapat bertahan sampai sekarang ? Sebabnya , karena dibuat menurut konsep yang matang. Ada rencana dan ada pelaksanaan .
Dari hal itulah ada yang membedakannya dari kesenian tradisionil klasik dan tradisionil non klasik
Bisa kita lihat jika Kesenian tradisionil non klasik contohnya adalah seni anyam-menganyam, Dimana pola-pola anyaman tidak timbul karena direncanakan terlebih dahulu secara koonsepsionil, tetapi lebih banyak timbul karena segi teknis dan naluri manusia. Mengapa demikian ? karena itu , pendekatannya bukan dari segi konsep. Dengan kata lain, timbul karena kebutuhan dan kemudian ditambah dengan naluri.
Namun dari seni tradisionil klasik, semuanya sudah dipikirkan matang-matang. Ada konsepnya dan ada rumus-rumusannya. Berkembang dikalangan istana atau keraton, misalnya di daerah Solo, Yogyakarta, Cirebon.
Oleh karena itu wayang merupakan suatu seni yang termasuk katagori seni tradisionil klasik. Karena dibuat berdasarkan konsep yang matang. Tetapi kenapa sekarang banyak yang melupakan seni budaya wayang kita ini ? kita bisa lihat dari beberapa aspek ,contohnya yang paling mendasar keadaan masyarakat, pendidikan, dan situasi budaya . dari ketiga factor ini cukup jelas kenapa budaya kita malah kalah saing oleh budaya – budaya asing yang masuk ke kita . sedikit pembahasan dari ketiga aspek tadi .
1 . keadaan masyarakat, kita semua sudah tahu sifat dari masyarakat yang sudah maju yaitu individuil. Sedangkan sifat masyarakat yang belum maju adalah tradisionil . Individuil adalah sikap hidup yang mengikuti trend budaya barat. Sedangkan tradisionil merupakan sikap hidup masyarakat timur pada umumnya.
2 . Faktor pendidikan, dari masalah pendidikan ini merupakan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kesenian. Seperti kita ketahui, pada jaman pendidikan kolonial belanda mengakibatkan kita tidak mengenal lagi kebudayaan tradisionil kita secara utuh. Ini baru dapat diakhiri ketika Indonesia merdeka. Tetapi kita sudah terlanjur tidak kenal lagi dengan kebudayaan kita sendiri. Yang kita kenal adalah semua seni berorientasi ke dunia barat.
3 . Faktor situasi budaya, apabila suatu kesenian tradisionil masih kuat atau hidup, maka ini akan berpengaruh kepada seniman-seniman yang hidup disekitar tempat itu. Demikian pula andaikan kehidupan tidak memperlihatkan seni tradisionil, maka seniman-seniman itu akan mencari pegangan lain yang bukan tradisionil lagi.
Dari tiga aspek diatas,kita bisa menarik kesimpulan mengapa budaya kita ini semakin hari semakin jauh peminat , karena pola kehidupan bangsa kita ini sudah berbelok kearah barat . jadi yang kita perlukan sekarang harus ada cara untuk membuat keseimbangan masyarakat kita ini akan budaya trdisionil dan budaya modern . kita ketahui semua , Negara yang sanggup menyeimbangkan dua aspek ini ialah jepang . jadi , jepang bisa kenapa kita enggak . ini merupakan pembelajaran bersama kita kedepan . untuk membuat bangsa kita ini menjadi lebih baik .
Apakah anda tahu ? dahulu wayang merupakan salah satu bentuk upacara tradisionil yang menjadi satu kesatuan. Tetapi karena 3 aspek tadi, wayang menjadi satu bentuk seni yang terlepas dari kehidupan kesatuan . malah hanya menjadi tontonan, untuk kesenangan saja. Kalau kita menghidupkan wayang, hanyalah karena “supaya tidak punah”, merupakan kebudayaan lama, sisa-sisa leluhur kita. Tetapi bukan karena pribadi membutuhkan, secara utuh wayang, tidak menghayatinya untuk apa kita menghidupkannya, bukan dari segi estetisnya, bukan pula dari segi isinya. Padahal suatu seni hanya dapat hidup bila dibutuhkan. Orang mempunyai seni memainkan wayang, karena ia ingin dan butuh suatu media untuk melambangkan sesuatu yang diinginkan, melemparkan pesan kepada orang lain, memuaskan emosi, kesedihan, kegembiraan, perasaan-perasaan lain, yang menjadi uneg-uneg. Jadi bukan sekedar untuk disuguhkan kepada penonton.
Kalau kita ingin mengembalikan kesenian semacam wayang ini hidup seperti dulu, terlebih dahulu harus kita cintai dan menjadi kebutuhan kita. Juga pembinaannya, mempelajari kembali makna dan pesan yang ada didalamnya. Jangan membuat garis pemisah antara penonton dengan pemain, yang akan menimbulkan ketegangan, gap dan perasaan tidak enak. Penonton dan pemain haruslah bersatu menjadi satu. Sehingga perasaan pemain dan penonton sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar